Mindset Seorang Copywriter: Copywriter Istimewa Memiliki Karakteristik Ini


copywritingSebelum membuat tulisan yang mampu menyihir pembaca menjadi pembeli, seorang copywriter tidak bisa hanya sekedar menulis. Semua orang bisa saja menulis! Tapi, menghasilkan sebuah tulisan yang bisa membantu meningkatkan omset setiap bulan, copywriter harus memiliki 4 ciri-ciri berikut!

#1 Copywriting bukan (sekadar) penulis

Seperti pendahuluan yang saya ungkapkan di awal, copywriter tidak bisa sekedar menulis. Ianya harus bisa mendalami psikologi manusia.

Karena fungsi utamanya adalah membuat copy yang mampu meningkatkan konversi. Itu berarti kamu harus masuk dan mengarungi pikiran mereka.

Untuk selanjutnya bisa mengalirkan idemu agar bisa diterima dan mendorong mereka untuk mengambil tindakan yang kamu ‘perintahkan’.

#2 Siapa yang peduli denganmu?

Semua manusia itu sama egoisnya! Termasuk saya. Lalu manfaat apa yang bisa kita ambil dari mata pelajaran PPKN yang diajarkan sewaktu SD mengenai tenggang rasa?

Ternyata tidak benar-benar memberikan kontribusi untuk kita. Iya, mereka tetap saja tidak peduli!

Berikut contoh copy dari sebuah sales page bisnis sungguhan (nama dan alamat disamarkan).

Saya sendiri tidak membacanya. Karena tidak ada hubungannya dan tidak bermanfaat untuk saya.

Karena kalau saya benar-benar ingin menyewa sebuah kostum, saya merasa tidak perlu informasi tersebut

Berikanlah informasi yang mereka pedulikan.

Yang paling penting adalah kamu mengetahui apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh pembaca. Setelah pembaca merasa bahwa kamu adalah orang yang tepat untuk bisa memberikan solusi, barulah mereka akan peduli denganmu.

#3 Produk ini hanya untuk kamu seorang

Semua orang suka diistimewakan. Buat seolah-olah kamu menjual barang ini hanya untuk seorang saja. Di sini mereka akan merasa istimewa dan mulai peduli terhadap produkmu.

Selain karena alasan ‘istimewa’, setiap calon pembeli pun memiliki karakteristik yang berbeda. Contohnya penjualan properti. Umumnya ada 2 jenis pembeli: orang yang ingin membeli rumah tinggal, atau orang yang ingin berinvestasi.

Kamu tidak bisa memberikan satu penawaran untuk 2 orang sekaligus. Karena mereka memiliki selera, kelas dan masalah yang berbeda.

Langsung saja saya kasih contohnya supaya lebih paham. Saya ingin menjual produk suplemen peninggi badan.

 

Siapa yang biasanya membeli produk ini?

Semua remaja atau dewasa yang sudah tidak dalam masa pertumbuhan?

Tidak salah. Tapi terlalu luas… Lebih spesifik lagi:

  • Jenis kelamin: wanita/pria
  • Umur: 17-21
  • Umur 21-30 (tidak dalam masa pertumbuhan)
  • Status: remaja dan dewasa tanggung
  • Pekerjaan: membutuhkan syarat tinggi proporsional
  • Permasalahan utama: ingin meninggikan badan, tetapi tidak punya banyak waktu dan energi untuk berolahraga – membutuhkan cara instan
  • Yang bisa kita bantu: suplemen peninggi badan tanpa perlu olahraga keras

Itulah buyer persona kita.

Selanjutnya dalam sales page, iklan, maupun promosi yang harus kamu lakukan…semuanya menargetkan persona ini.

#4 Jadilah manusia seutuhnya

2 poin yang harus kamu hindari supaya pembaca tidak menguap sewaktu membaca penawaran yang kamu berikan adalah

  • Gaya penulisan yang kaku seperti robot
  • Supaya terlihat profesional; ditambah dengan istilah-istilah yang sulit dimengerti

Seorang copywriter harus bisa membuat tulisan yang bisa membangun keakraban seolah-olah berbicara langsung kepada orang lain.

Caranya? Gunakan bahasa yang sering mereka gunakan

Jangan ciptakan istilah asing ketika mereka menceritakan masalahnya kepadamu.

copywritingIni contoh halaman fitur sebuah layanan pembuatan toko online instan bernama Jarvis Store.

Menurut narasumber, Pak Darmawan dari Panduan IM, beliau menyatakan bahwa Javis Store memberikan layanan yang cukup menarik. Tapi, mereka mengemas tulisan penawaran dengan bahasa yang kurang luwes.

Dan, tambahan dari saya mereka kurang konsisten. Sebagai contoh:

“Toko anda dalam genggaman”

“Fitur tambahan pada website kamu”

Anda dan kamu? Sebaiknya fokus pada satu gaya. Mau gaya formal tapi luwes atau gaya santai?

Kalau bisa dijelaskan secara sederhana, kenapa harus dipersulit? Seperti petuah om Albert Einsten, “jika kamu tidak bisa menjelaskan secara sederhana, maka kamu belum mengerti sepenuhnya”

 

Advertisements